Berkeliling Dengan Perahu Junk Tradisionil

Berkeliling Dengan Perahu Junk Tradisionil

Berkeliling Dengan Perahu Junk Tradisionil – The Dukling, perahu junk tradisionil China kerap kelihatan di Dermaga Victoria, Hong Kong.

Sekarang harus sesuaikan jalur turnya untuk tetap bertahan dari wabah virus corona. Sekarang ini perahu itu seringkali layani warga di tempat.

Berkeliling Dermaga Victoria, Hong Kong, dengan Perahu Junk Tradisionil

Untuk naiki perahu itu, penumpang harus patuhi prosedur kesehatan, seperti memakai masker dan jaga jarak. Penumpang dilihat temperatur badannya saat sebelum naik ke atas perahu.

Baca Juga: Wisatawan Balikkan Batu Marmer Romawi Kuno

Diambil dari Reuters, perahu yang dibuat di tahun 1955 itu dahulunya punya seorang nelayan yang tinggal di kapal itu dengan keluarganya. Tetapi pada semenjak 1980-an, perahu itu mulai dipakai untuk tour dermaga.

Perahu itu mempunyai 12 karyawan yang layani wisatawan asing yang ingin menyaksikan cakrawala Hong Kong yang eksklusif dari pojok berlainan.

Tapi semenjak ada tepian seputar 10 bulan akhir, Direktur Peningkatan Usaha Dukling Limited Charlotte Li, menjelaskan nyaris tidak ada wisatawan.

Pariwisata sudah menggerakkan semakin banyak perahu seperti itu untuk melaut di Dermaga Victoria, tapi banyak yang dipercaya cuman tiruan.

Berkeliling Dengan Perahu Tradisionil Singapura dan Hong Kong Membuka Travel Bubble Udara Mulai 22 November

Pemerintahan Hong Kong dan Singapura akan mengeluarkan pola perjalanan gelembung perjalanan udara atau air travel bubble pada 22 November 2020. Peraturan air travel bubble di antara Hong Kong dan Singapura sebagai tonggak penting untuk industri pariwisata global, dan buka jalan untuk diawalinya kembali perjalanan internasional yang aman.

Dikutip Fox News, pola ini memungkinkannya ada beberapa penerbangan dalam satu minggu di Singapore Airlines dan Cathay Pacific Airways mulai dari 22 November. Tetapi, pola ini cuman sediakan paket 200 penumpang dari tiap negara.

“Apa bubble itu bisa bekerja secara baik akan tergantung pada kerja sama dari seluruh pihak, terhitung keterlibatan masyarakat dan usaha mereka dalam jaga jarak sosial,” kata Sekretaris Pembangunan Ekonomi dan Perdagangan Hong Kong, Edward Yau Tang-wah.

Yau menambah, bila tidak ada kenaikan kasus yang disampaikan, karena itu paket penerbangan di antara dua maskapal penerbangan itu akan dinaikkan jadi 2x setiap hari dari tiap kota mulai 7 Desember.

Travel bubble itu memberi sepintas kisah mengenai bagaimana beberapa tempat dengan catatan kasus pandemi yang tidak begitu kronis bisa saja kembali membuka perjalanan dengan aman. Menurut informasi yag dikeluarkan ke-2 negara, untuk beberapa penumpang yang datang di Hong Kong harus test PCR dan memperlihatkan hasil yang negatif kembali di lapangan terbang agar terbebas jalani karantina.

Sementara untuk beberapa penumpang yang datang di Singapura harus mengambil program pencarian contact. Ada juga untuk beberapa penumpang yang akan naiki pesawat di Hong Kong diwajibkan mengambil kantong seputar 1.500 dolar Hong Kong Rp 2,6 juta untuk jalani test di laboratorium atau rumah sakit yang disepakati pemerintahan.

Sedang di Singapura, test laboratorium dibandrol pada harga seputar 200 dolar Singapura atau sejumlah Rp 2,1 juta. Untuk maskapal yang layani penerbangan harian akan dioperasionalkan oleh Singapore Airlines dan Cathay Pacific.

Susul Malaysia, Hong Kong Merencanakan Membuka Travel Bubble dengan Singapura

Singapura dan Hong Kong sudah setuju untuk buka travel bubble atau koridor perjalanan di antara ke-2 negara. Peraturan itu dipublikasikan pemerintahan Hong Kong pada Kamis, 15 Oktober 2020.

Awalnya, negara tetangga Indonesia, Malaysia, terlebih dahulu menggamit Singapura untuk membuat travel bubble. Pola travel bubble dipandang seperti jalan keluar untuk tingkatkan lawatan pelancong pasca-pandemi virus corona.

Travel bubble ialah saat dua ataupun lebih negara yang sukses mengatur virus corona setuju untuk membuat sebuah gelembung atau koridor perjalanan. Gelembung ini akan mempermudah warga yang tinggal didalamnya lakukan perjalanan secara bebas dan menghindar kewajiban isolasi mandiri.

Dengan begitu, pelancong dari ke-2 negara ini dapat lakukan perjalanan, melalui proses air travel bubble. Untuk argumen apa saja tanpa diharuskan lakukan karantina. Namun tetap diharuskan untuk memperlihatkan bukti negatif corona lewat hasil tes PCR COVID-19 yang dianggap ke-2 negara.

Dikutip Travel and Leisure, gagasannya, bakal ada penerbangan khusus yang direncanakan untuk layani pelancong khusus lingkaran travel bubble Singapura dan Hong Kong. Penumpang yang tidak terhitung dalam travel bubble tidak dibolehkan naik.

Ini sudah memberikan kami keyakinan diri untuk sama-sama buka tepian keduanya dan secara progresif,” kata Menteri Transportasi Singapura Ong Ye Kung.

Di lain sisi, Sekretaris Perdagangan dan Pembangunan Ekonomi Hong Kong Edward Yau, memandang travel bubble jadi tonggak penting ke-2 negara untuk meneruskan kondisi normal sekalian berusaha menantang pertarungan COVID-19 yang berkelanjutan.

Pemerintahan Hong Kong menjelaskan, kesepakatan travel bubble akan disamakan dengan perubahan terkini dan keadaan COVID-19 di ke-2 negara. Jumlah penerbangan khusus ke arah Hong Kong atau Singapura akan disamakan, bahkan juga ada peluang penerbangan akan dibatalkan.

Informasi travel bubble ada sesaat sesudah Hong Kong Tourism Board (HKTB) dan Quality Assurance Agen mengeluarkan prosedur kesehatan standard untuk bidang pariwisata.

Selama ini, Singapura sudah memberikan laporan lebih dari 57.890 kasus COVID-19. Sedang Hong Kong memberikan laporan lebih dari 5.200 kasus.

Hong Kong Ganti Hotel Sebagai Permukiman Sementara untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah

Hong Kong merencanakan mengganti hotel dan guest house yang ”kurang laku” sebagai perumahan sementara untuk masyarakatnya yang mempunyai penghasilan atau upah rendah. Pola percontohan ini memungkinkannya harga sewa terbatasi 25 % dari penghasilan penyewa.

Dikutip South China Morning Post, petinggi property perumahan yang turut serta dalam program itu menjelaskan jika pemerintahan akan memakai permodalan 95 juta dolar Hong Kong atau sama dengan Rp175 miliar dari Dana Perduli Komune untuk gagasan tempat tinggal sementara itu.

Gagasan ini dipublikasikan pimpinan eksekutif Hong Kong, Carrie Lam Cheng Yuet-ngor, dalam pidato peraturannya pada November 2020 kemarin. Maksudnya program ini untuk memberi bantuan pada hotel yang terimbas wabah COVID-19. Untuk mereka yang siap sewakan kamar sebagai rumah peralihan untuk beberapa orang yang menanti lama. Sedangkan perumahan umum akan mendapatkan bantuan pariwisata dari pemerintahan.

Dalam tatap muka yang diselenggarakan bersama aktor bidang pariwisata Hong Kong itu. Ada 10 pertanyaan yang dilemparkan faksi guest house ke anggota parlemen. Direktur pekerjaan khusus di Agen Transportasi dan Perumahan, Carlson Chan Ka-shun. Menjelaskan jika program bantuan tersebut dalam alasan, ditambah bagaimana pola persewaan itu dikerjakan.

Anggota parlemen di bidang pariwisata, Yiu Si-wing, menjelaskan jika industri hotel menyorot beberapa permasalahan. Terhitung tanggung jawab pada ongkos mengganti kamar jadi rumah dan mengembalikannya balik ke keadaan sebelumnya sesudah pola usai.

Peter Shiu Ka-fai, dari bidang grosir dan ketengan, menanyakan bagaimana bantuan kamar untuk hotel dan guest house akan ditetapkan. Disamping itu dia menanyakan, bagaimana harga sewa akan dihitung. Bantuan untuk tiap kamar disebutkan terbatasi sampai 133,5 ribu dolar Hong Kong atau seputar Rp246 juta sepanjang 2 tahun.

Dalam program bantuan pariwisata itu, Chan menyebutkan ada 800 kamar hotel dan guest house. Nantinya akan didistribusikan sebagai tempat tinggal sementara masyarakat berpendapatan rendah. Salah satunya hotel yang akan terima bantuan ini ialah Hotel Cruise di To Kwa Wan dan LSM Lok Sin Tong.